Suatu hari dalam pelayanan kefarmasian di apotek, seorang pasien datang meminta “obat setelan” yang biasa dibelinya di tempat lain. Keluhannya adalah nyeri pinggang yang menjalar. Ketika ditelusuri, setelan yang dimaksud ternyata berisi diklofenak dan deksametason atau metilprednisolon.
Situasi seperti ini bukan alasan untuk menyalahkan pasien. Istilah “obat setelan” sudah terlanjur hidup di masyarakat sebagai sebutan untuk beberapa obat yang diberikan sekaligus berdasarkan keluhan. Masalahnya, istilah tersebut tidak menjelaskan nama obat, dosis, lama penggunaan, alasan pemilihan, maupun apakah kondisi pasien sudah diperiksa. Padahal, rincian itulah yang menentukan manfaat dan risikonya.
Apa yang disebut “obat setelan”?
Ini bukan istilah terapi atau nama obat yang baku. Isinya dapat berbeda antara satu tempat dan tempat lain. Karena itu, obat harus dikenali satu per satu—bukan hanya disebut berdasarkan warna, bentuk, atau efek yang pernah dirasakan.
Mengapa kombinasi ini terasa manjur?
Diklofenak termasuk obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang membantu meredakan nyeri dan peradangan. Deksametason dan metilprednisolon adalah kortikosteroid yang juga menekan proses peradangan. Efek antiperadangan dari keduanya dapat membuat keluhan terasa cepat berkurang—tetapi rasa nyaman itu belum menjawab penyebab nyeri, dan bukan bukti bahwa kombinasi tersebut aman untuk diulang.
Nyeri pinggang yang menjalar dapat berkaitan dengan iritasi atau tekanan pada saraf, tetapi juga dapat memiliki penyebab lain. Pedoman NICE tidak menganjurkan kortikosteroid oral secara rutin untuk skiatika karena tidak menunjukkan manfaat menyeluruh pada nyeri atau fungsi dan terdapat bukti potensi bahaya. Untuk OAINS pada skiatika, manfaatnya juga terbatas dan risikonya perlu dinilai; bila diresepkan, digunakan pada dosis efektif terendah selama waktu sesingkat mungkin.
Risiko yang perlu diperhatikan
- Iritasi, tukak, atau perdarahan lambung dan usus
- Gangguan ginjal, tekanan darah, serta risiko jantung dan pembuluh darah
- Gula darah dapat meningkat akibat kortikosteroid
- Gejala infeksi dapat tersamarkan dan daya tahan tubuh tertekan
Yang perlu dinilai dahulu
- Pola nyeri, penjalaran, lama keluhan, dan pemicunya
- Riwayat sakit lambung, ginjal, jantung, hipertensi, atau diabetes
- Obat lain yang sedang digunakan dan riwayat alergi
- Adanya tanda bahaya yang memerlukan pemeriksaan segera
Dua obat keras bukan sekadar “obat nyeri”
Diklofenak dapat menyebabkan tukak dan perdarahan saluran cerna, juga membawa risiko pada ginjal serta jantung dan pembuluh darah. Penggunaan bersama kortikosteroid oral termasuk faktor yang meningkatkan risiko perdarahan saluran cerna. Sementara itu, kortikosteroid perlu dipilih dengan mempertimbangkan diagnosis, dosis, durasi, penyakit penyerta, dan pemantauan. Kementerian Kesehatan juga menempatkan deksametason sebagai contoh obat keras yang memerlukan resep dokter.
“Obat yang terasa cocok belum tentu aman untuk diulang, terlebih ketika nama, dosis, dan alasan penggunaannya tidak diketahui dengan jelas.
Segera periksa bila ada tanda bahaya
Nyeri pinggang disertai kelemahan kaki yang memburuk, mati rasa di area selangkangan, sulit menahan atau mengeluarkan urine maupun buang air besar, demam atau kondisi tubuh sangat lemah, atau muncul setelah cedera berat perlu dinilai segera oleh tenaga medis.
Peran apoteker bukan sekadar berkata “tidak”
Ketika pasien menyebut “obat setelan”, percakapan dapat dimulai dengan menanyakan keluhan, sejak kapan dirasakan, ke mana nyeri menjalar, obat yang sudah diminum, dan penyakit lain yang dimiliki. Jika ada kemasan atau foto obat sebelumnya, apoteker dapat membantu mengidentifikasi kandungannya. Tujuannya bukan menghakimi kebiasaan pasien, melainkan membantu memilih langkah berikutnya yang paling aman.
Jangan meminta obat hanya dengan sebutan “setelan”. Tanyakan nama, dosis, kegunaan, lama pemakaian, dan efek sampingnya. Untuk nyeri pinggang yang menjalar, terutama yang menetap atau memburuk, lakukan pemeriksaan agar terapi disesuaikan dengan penyebab dan kondisi kesehatan Anda.
Pada akhirnya, pelayanan kefarmasian yang baik tidak berhenti pada obat apa yang diberikan. Ia memastikan pasien memahami apa yang diminum dan mengapa, sekaligus mencegah pengulangan terapi berisiko tanpa evaluasi. Nyeri memang perlu ditangani, tetapi keselamatan pasien tetap menjadi tujuan utamanya.
Rujukan tepercaya
- Kementerian Kesehatan RI
Yuk, Kenali Logo pada Obat Beserta Artinya
- NICE Guideline NG59
Low back pain and sciatica in over 16s: recommendations
- MedlinePlus — U.S. National Library of Medicine
Diclofenac: important warnings and drug information
- DailyMed — U.S. National Library of Medicine
Diclofenac sodium: prescribing information
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, resep, atau konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Nama pasien dan rincian yang dapat mengidentifikasi pasien tidak dicantumkan.
