Seorang pria dewasa datang ke apotek dan meminta satu tablet Thiamycin 500 mg. Sebagai apoteker, saya tidak serta-merta menyerahkan obat yang diminta. Saya mencoba membuka percakapan secara tenang: obat itu akan digunakan untuk siapa, keluhan apa yang dirasakan, dan sudah berapa lama berlangsung?

Dari tanya jawab tersebut, pasien menyampaikan bahwa sudah beberapa hari mengalami keluarnya cairan seperti nanah dari saluran kemih—keluhan yang di masyarakat sering disebut “kencing nanah”. Pada titik itu, keputusan terpenting bukan memilih antibiotik dari balik etalase. Pasien perlu diperiksa oleh dokter terlebih dahulu, dan itulah saran yang saya berikan.

“
Potongan percakapan

“Kenapa hanya mau satu tablet?”
Pasien menjawab, “Dulu pernah makan satu tablet dengan gejala yang sama, lalu sembuh.”

Jawaban ini terdengar meyakinkan dari pengalaman pribadi, tetapi belum cukup untuk memastikan obatnya tepat atau infeksinya benar-benar sudah tertangani.

Gejala yang berkurang setelah minum obat tidak selalu berarti penyebab keluhan sudah hilang. Keluhan dapat mereda sementara, muncul kembali, atau tetap menular kepada pasangan. Satu pengalaman sebelumnya juga tidak menjelaskan apakah obat itu memang sesuai diagnosis, apakah ada infeksi lain yang menyertai, atau apakah kondisi pasien kali ini sama. Karena itu, cerita “dulu sembuh” perlu didengarkan dengan hormat sekaligus dijawab dengan edukasi yang aman.

Keluhan bukan diagnosis

“Kencing nanah” dapat mengarah pada IMS

Keluarnya cairan dari uretra, terutama disertai nyeri atau rasa terbakar saat berkemih, dapat mengarah pada uretritis akibat gonore atau infeksi lain. Gejala saja tidak cukup untuk memastikan penyebab maupun menentukan antibiotik yang tepat.

Mengapa apoteker perlu bertanya?

Permintaan obat sering terdengar sederhana, tetapi satu nama merek dan jumlah satu tablet tidak memberi informasi tentang diagnosis, alergi, penyakit penyerta, obat lain, lokasi infeksi, kemungkinan infeksi campuran, maupun riwayat terapi sebelumnya. Tanpa informasi tersebut, pemberian antibiotik berisiko tidak efektif, menunda diagnosis, menyamarkan gejala, dan ikut mendorong resistensi.

Pertanyaan apoteker bukan bentuk kecurigaan atau penghakiman. Pertanyaan adalah bagian dari perlindungan pasien. Untuk keluhan yang sensitif, percakapan perlu dilakukan dengan suara yang tenang, bahasa netral, dan privasi yang terjaga.

“

Tidak langsung memberikan obat bukan berarti menolak membantu. Kadang, bantuan terbaik adalah memastikan pasien sampai pada pemeriksaan dan terapi yang tepat.

Mengapa antibiotik tidak boleh dipilih berdasarkan perkiraan?

Keluhan menyerupai gonore memerlukan penilaian klinis dan, bila tersedia, pemeriksaan laboratorium. Pedoman terapi mempertimbangkan pola resistensi, lokasi infeksi, berat badan, alergi, dan kemungkinan infeksi klamidia yang menyertai. Karena itu, antibiotik yang pernah digunakan orang lain atau dibeli dalam jumlah yang ditentukan sendiri tidak dapat dianggap sebagai terapi yang sesuai.

WHO menyebut resistensi gonore terus meningkat dan telah mengurangi pilihan terapi. Akses antibiotik yang tidak terkendali, pemilihan yang tidak tepat, dan penggunaan berlebihan termasuk faktor yang mempercepat masalah tersebut. Ini sebabnya “coba satu tablet dulu” bukan pilihan yang aman bagi pasien maupun masyarakat.

Yang perlu dihindari

  • Membeli antibiotik berdasarkan pengalaman orang lain
  • Menentukan sendiri jenis, jumlah, atau dosis obat
  • Berhenti setelah cairan atau nyeri terasa berkurang
  • Berhubungan seksual sebelum evaluasi dan terapi tuntas

Langkah yang dianjurkan

  • Periksa ke dokter atau layanan IMS sesegera mungkin
  • Sampaikan keluhan dan riwayat seksual dengan jujur
  • Jalani pemeriksaan IMS lain bila dianjurkan
  • Ikuti terapi dan jadwal kontrol secara lengkap

Bukan hanya pasien yang perlu diperhatikan

Jika gonore atau IMS lain terdiagnosis, pasangan seksual juga perlu mendapat evaluasi dan penanganan sesuai arahan tenaga kesehatan. Pasien umumnya dianjurkan menghindari hubungan seksual sampai pengobatan dirinya dan pasangannya selesai serta masa tunggu yang disarankan tenaga kesehatan terpenuhi. Pemeriksaan untuk IMS lain—seperti klamidia, sifilis, dan HIV—juga dapat dianjurkan karena infeksi dapat terjadi bersamaan.

Tanpa stigma

Keluhan sensitif tetap berhak mendapat pelayanan yang bermartabat

IMS bukan alasan untuk mempermalukan pasien. Bahasa yang tidak menghakimi dan jaminan kerahasiaan membantu pasien memberikan informasi yang lebih jujur, menjalani pemeriksaan, memberi tahu pasangan, dan menyelesaikan terapi.

Perlu pertolongan segera

Jangan menunda bila muncul tanda bahaya

Segera mencari pertolongan medis bila keluhan disertai demam, nyeri atau bengkak pada testis, nyeri hebat di perut atau panggul, sulit berkemih, ruam luas, nyeri sendi, atau kondisi tubuh memburuk.

Makna rujukan dalam pelayanan kefarmasian

Merujuk pasien bukan akhir dari pelayanan apoteker. Apoteker membantu pasien memahami mengapa pemeriksaan diperlukan, ke mana ia dapat mencari pertolongan, dan mengapa antibiotik tidak boleh dipilih sendiri. Setelah pasien memperoleh resep, apoteker kembali berperan memastikan cara pakai, lama terapi, efek samping, interaksi, penyimpanan, dan kepatuhan dipahami dengan benar.

Pesan apoteker

Bila mengalami keluar cairan dari penis, nyeri saat berkemih, atau keluhan setelah kontak seksual, jangan mengobati diri dengan antibiotik sisa atau membeli berdasarkan nama yang pernah digunakan. Periksakan diri tanpa perlu merasa malu. Semakin cepat penyebabnya dikenali, semakin tepat pula penanganannya.

Sumber bacaan

Rujukan tepercaya

  1. Kementerian Kesehatan RI

    Pedoman Penggunaan Antibiotik — Permenkes No. 28 Tahun 2021

  2. Kementerian Kesehatan RI

    Permenkes No. 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan HIV, AIDS, dan IMS

  3. World Health Organization

    Multi-drug resistant gonorrhoea

  4. Centers for Disease Control and Prevention

    Gonococcal infections among adolescents and adults

Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, resep, atau konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Kisah telah dianonimkan dan tidak memuat identitas pasien.