Pada 5–6 September 2026, rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan abu vulkanik tersebar ke sejumlah wilayah. BMKG melaporkan sebarannya meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. Di tengah kekhawatiran masyarakat, permintaan masker pun meningkat cepat.

Masker memang penting, tetapi perlindungan kesehatan tidak berhenti pada menutup hidung dan mulut. Partikel abu dapat masuk ke rumah, menempel pada kulit, mengiritasi mata, mencemari wadah terbuka, dan kembali beterbangan ketika disapu atau dilalui kendaraan.

“

Langkah paling efektif bukan menambah banyak perlengkapan, melainkan mengurangi kontak dengan abu sebanyak mungkin.

Langkah pertama

Tetap di dalam ruangan bila memungkinkan

Tutup pintu dan jendela, batasi celah yang memungkinkan abu masuk, dan hindari aktivitas luar yang tidak mendesak. Bila memakai pendingin udara, hindari mode yang menarik udara dari luar dan periksa filternya. Pilih satu pintu keluar-masuk agar abu tidak tersebar ke seluruh rumah.

Masker seperti apa yang digunakan?

Bila harus keluar atau membersihkan abu, gunakan respirator partikulat yang melekat baik pada wajah, seperti N95, KN95, atau standar setara bila tersedia. Masker medis masih dapat memberi perlindungan sebagian, tetapi kemampuan menyaring dan kerapatannya tidak sama. Masker yang basah, kotor, rusak, tersumbat, atau membuat sulit bernapas perlu diganti.

Janggut, ukuran yang tidak sesuai, dan celah di sekitar hidung atau pipi dapat mengurangi perlindungan. Anak-anak memerlukan ukuran yang pas dan pengawasan; jangan memaksakan respirator yang membuat mereka kesulitan bernapas.

Lindungi mata dan kulit

Kacamata pelindung dan pakaian tertutup juga diperlukan

Gunakan kacamata pelindung yang menutup cukup rapat saat berada di luar atau membersihkan abu. Hindari lensa kontak karena partikel yang terperangkap dapat menggores permukaan mata. Kenakan baju lengan panjang, celana panjang, penutup kepala, dan alas kaki tertutup untuk mengurangi iritasi kulit.

Jika abu mengenai mata atau kulit

Jangan menggosok mata. Bilas perlahan menggunakan air bersih. Lepaskan lensa kontak dan gunakan kacamata biasa sampai paparan berlalu. Bila mata tetap nyeri, merah berat, silau, terasa mengganjal, atau penglihatan berubah, segera periksakan diri.

Abu pada kulit sebaiknya dibilas dengan air lalu dibersihkan lembut menggunakan sabun. Hindari menggosok keras karena partikel abu bersifat abrasif. Ganti pakaian yang terkena abu sebelum memasuki ruang yang sudah bersih.

Amankan air, makanan, dan obat

Tutup sumur, penampungan air, wadah makanan, dan peralatan makan. Cuci buah serta sayuran dengan air bersih sebelum dikonsumsi. Bila air minum tampak tercemar abu atau kualitasnya diragukan, gunakan sumber air minum lain sampai ada keterangan dari otoritas setempat.

Simpan obat dalam kemasan tertutup dan kering. Pasien dengan asma, PPOK, penyakit jantung, atau penyakit kronis lain perlu memastikan obat rutinnya tersedia dan digunakan sesuai petunjuk. Inhaler pelega tidak perlu dibeli atau digunakan oleh orang yang tidak memiliki indikasi.

Membersihkan abu

Jangan membuat abu kembali beterbangan

Tunggu hujan abu mereda bila tidak ada kebutuhan mendesak. Gunakan masker, kacamata, dan pakaian tertutup. Bersihkan permukaan dengan kain lembap atau metode yang menekan debu; hindari menyapu kering dengan gerakan keras. Basahi abu secukupnya—bukan sampai membanjiri saluran—lalu kumpulkan sesuai arahan pemerintah daerah.

Abu di atap dapat menjadi berat, terlebih bila basah, tetapi atap yang tertutup abu juga licin dan berisiko menyebabkan jatuh. Jangan naik ke atap bila tidak memiliki perlengkapan serta kemampuan yang memadai. Hindari berkendara kecuali perlu karena kendaraan dapat mengangkat kembali abu ke udara dan jarak pandang dapat menurun.

Siapa yang perlu lebih berhati-hati?

Bayi dan anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan asma, PPOK, penyakit jantung, alergi, atau gangguan daya tahan tubuh sebaiknya lebih ketat membatasi paparan. Tempatkan mereka di ruangan paling bersih dan jauhkan dari kegiatan pembersihan.

Kapan harus mencari pertolongan?

Segera cari pertolongan bila muncul sesak napas, napas berbunyi atau memburuk, nyeri dada, bibir tampak kebiruan, kebingungan, batuk berat, atau gangguan mata dan kulit yang tidak mereda. Jangan mengobati batuk akibat iritasi abu dengan antibiotik tanpa pemeriksaan—antibiotik tidak mengatasi iritasi oleh partikel.

Hindari kabar dan “penawar” yang tidak terbukti

Tidak ada makanan, minuman, susu, suplemen, atau obat bebas yang dapat “membersihkan” abu dari paru-paru. Minum air secukupnya membantu menjaga kenyamanan dan mencegah kekurangan cairan, tetapi bukan penawar paparan. Ikuti informasi resmi BMKG, Badan Geologi/PVMBG, BNPB, pemerintah daerah, dan fasilitas kesehatan.

Pesan apoteker

Selain masker, siapkan kacamata pelindung, pakaian tertutup, air bersih, wadah tertutup untuk makanan dan obat, serta obat rutin bagi anggota keluarga yang memang menggunakannya. Kurangi aktivitas luar, cegah abu masuk ke rumah, dan bersihkan dengan cara yang tidak menerbangkan debu kembali. Bila keluhan pernapasan, mata, atau kulit memburuk, jangan menunda pemeriksaan.

Sumber bacaan

Rujukan tepercaya

  1. Badan Geologi — Kementerian ESDM

    Fenomena erupsi menerus Gunung Anak Krakatau tanggal 5 September 2026

  2. BMKG

    BMKG terus pantau dampak erupsi Gunung Anak Krakatau

  3. Kementerian Kesehatan RI

    Tujuh langkah mencegah penyakit akibat letusan gunung berapi

  4. Kementerian Kesehatan RI

    Hindari abu vulkanik, masyarakat disarankan tidak banyak keluar rumah

  5. U.S. Centers for Disease Control and Prevention

    Safety guidelines during and after volcanic ashfall

  6. U.S. Geological Survey

    Volcanic ash — guidance for the public

Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan arahan resmi penanggulangan bencana, pemeriksaan, diagnosis, atau konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Kondisi sebaran abu dapat berubah; ikuti pengumuman otoritas setempat.